Logo SantriDigital

khubah Idul Adha inspiratif dan sedih

Khutbah Jumat
H
Hasbullah Ahmad
30 April 2026 5 menit baca 0 views

أَحْمَدُكَ يَا مَنْ جَعَلَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِ خَلْقِكَ أَجْمَعِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ...

أَحْمَدُكَ يَا مَنْ جَعَلَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِ خَلْقِكَ أَجْمَعِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Hari ini, Idul Adha, hari kurban, hari pengorbanan. Namun, di tengah kebahagiaan yang seharusnya menyelimuti, hati kita bisa saja dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam, kesedihan atas diri kita sendiri, atas kelalaian kita, atas dosa-dosa yang masih membelenggu. Idul Adha mengingatkan kita pada kisah agung dua insan pilihan, Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya, Ismail 'alaihissalam, yang rela mengorbankan apa yang paling mereka cintai demi ketaatan mutlak kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "Falammā balagha ma'ahu as-sa'ya qāla yā bunayya innī arā fī al-manām annī adzbaḥuka fānẓur māżā tarā, qāla yā abati if'al mā tu'maru satadʒidunī in shā'a Allāhu mina aṣ-ṣābirīn." (Maka tatkala anak itu sampai pada umur [bisa] berjalan bersama ayahnya, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ismail menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.") (QS. Ash-Shaffat: 102) Lihatlah, wahai Saudara-saudaraku. Sebuah ujian yang begitu berat, perintah untuk menyembelih darah daging sendiri. Namun, di mana ada perintah Allah, di situlah ketaatan harus ditegakkan, bahkan jika itu menghancurkan hati. Dan di mana ada ujian yang berat, di situlah kesabaran yang luar biasa dituntut. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Betapa jauhnya kita dari kesabaran dan ketaatan para anbiya. Kita mudah mengeluh, mudah menyerah, mudah meninggalkan perintah Allah demi kesenangan sesaat dunia. Kita masih bergelimang dosa, kita masih ragu-ragu dalam beribadah, hati kita masih terpaut pada dunia yang fana. Adakah kita pernah merasakan getirnya air mata penyesalan yang mengalir deras saat kita teringat akan dosa-dosa kita? Adakah kita pernah merasakan pedihnya hati saat kita menyadari betapa seringnya kita mengecewakan Sang Pencipta? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "Wa maa ḥayātud-dun’yā illā la‘ibun wa lahwun, wa ladārul- ākhirati khairul- lilladzīna yattaqụn, afalā ta'qilūn." (Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahami?) (QS. Al-An'am: 32) Betapa sering kita terlena oleh permainan dunia ini, oleh kesibukan yang melenakan, oleh pujian manusia yang fana. Kita membangun istana di atas pasir harapan yang rapuh, melupakan bahwa suatu saat nanti, kita akan kembali kepada-Nya dalam keadaan yang hina, tanpa bekal kecuali amal perbuatan kita. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Idul Adha adalah momentum untuk berkurban. Bukan hanya berkurban hewan, tetapi juga berkurban hawa nafsu, berkurban ego, berkurban segala sesuatu yang menghalangi cinta kita kepada Allah. Pernahkah kita tanyakan pada diri sendiri, apa yang lebih kita cintai saat ini? Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau cinta pada harta, tahta, dan wanita? Cinta pada keridhaan-Nya, atau cinta pada pandangan dan pujian manusia? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tsalatsun man kunna fīhi wajada ḥalāwatul īmān: ay yakūna Allāhu wa Rasūluhu aḥabba ilaihi mimmā siwāhumā, wa ay yuḥibba al-mar'a lā yuḥibbuhu illā lillāh, wa ay yakraha an ya'ūda fīl-kufri kamā yakrahu an yurma fīn-nār." (Ada tiga perkara yang barangsiapa memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya; (2) tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah semata; (3) membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.) Hadits ini, wahai Saudara-saudaraku, adalah pengingat pedih bagi kita. Apakah kita sudah benar-benar merasakan manisnya iman? Apakah Allah dan Rasul-Nya adalah cinta teragung dalam hati kita? Atau jangan-jangan, hati kita lebih bergetar saat mendengar panggilan duniawi daripada panggilan azan? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Air mata penyesalan adalah tanda hidupnya hati. Jika hari ini air mata kita tidak mengalir saat mendengar ayat-ayat Allah yang penuh ancaman atau janji-Nya yang menggugah, maka patutlah kita merasa sedih. Sedih karena hati kita mungkin telah mengeras, bagai batu yang lebih keras lagi. Neraca amal kita adalah penentu nasib kita di akhirat kelak. Di satu sisi ada nikmat Allah yang tak terhingga, di sisi lain ada dosa-dosa kita yang menumpuk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "Fa man ya'mal mitsqāla ḏarratin khairan yarahu, wa man ya'mal mitsqāla ḏarratin syarran yarahu." (Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.) (QS. Az-Zalzalah: 7-8) Setiap detik, setiap langkah, setiap bisikan hati, semuanya dicatat. Tak ada yang tersembunyi dari pengawasan Allah yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Betapa malunya kita kelak, ketika catatan amal kita dibentangkan. Akankah kita melihat barisan kebaikan yang membanggakan, atau tumpukan kesalahan yang memalukan? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Idul Adha ini, mari kita jadikan momen untuk membersihkan hati, memohon ampunan, dan berjanji untuk kembali kepada Allah. Kurban kita saat ini, semoga menjadi tebusan atas kelalaian kita, menjadi bukti penyerahan diri kita yang hakiki. Mari kita renungkan kembali, betapa dekatnya ajal menjemput kita. Betapa sebentarnya kita hidup di dunia ini. Apakah kita sudah siap jika malaikat maut datang malam ini? Mari kita renungkan ayat yang agung ini, semoga meresap ke dalam jiwa kita: "Ya ayyuhal-insānū innaka kādiḥun ilā rabbika kadḥan famulāqīh." (Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.) (QS. Al-Insyiqaq: 6) Ya Allah, sungguh kami telah bekerja keras dalam kesibukan dunia, dalam perjuangan hidup kami. Namun, yang kami pinta hanyalah agar kelak kami menemui-Mu dalam keadaan husnul khatimah, dalam naungan rahmat-Mu. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Jadikanlah Idul Adha ini sebagai awal kebangkitan jiwa kami, pembersihan hati kami, dan penguatan tekad kami untuk senantiasa taat kepada-Mu. Bârakallâhu lî wa lakum fîl-Qur’ânil-‘aẓîm, wa nafa‘anî wa iyyâkum bimâ fîhi minal-âyâti wadz-dzikril-ḥakîm. Aqūlu qawlî hâdhâ wa astaghfirullâhal-‘aẓîma lî wa lakum wa lisâ’iril-muslimîna wal-muslimâti fastaghfirûhu innahu huwal-Ghafûrur-Raḥîm.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →